26.7 C
Jakarta
Friday, January 30, 2026
spot_img
More

    Latest Posts

    Alasan Trump Ngotot Ingin Greenland: Dari Keamanan AS hingga Ancaman Retaknya NATO

    Jakarta – Nama Greenland mendadak jadi sorotan dunia. Wilayah luas milik Denmark yang berpenduduk kurang dari 60 ribu jiwa ini kembali jadi pusat perhatian setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka menyatakan keinginannya agar Greenland menjadi bagian dari AS.

    “Ini wilayah yang sangat strategis,” ujar Trump kepada wartawan di atas Air Force One. Ia menegaskan bahwa aktivitas Rusia dan China di sekitar Greenland menjadi ancaman serius bagi keamanan nasional Amerika Serikat.

    Pernyataan tersebut langsung memicu ketegangan global. Seperti dicatat Aktualpost.com, bukan hanya Denmark yang bereaksi keras, tetapi juga negara-negara Eropa dan aliansi militer NATO yang merasa stabilitas kawasan Atlantik Utara ikut terancam.

    Denmark Waswas, NATO Terancam Retak

    Denmark, sebagai pemilik sah Greenland, memberi sinyal peringatan keras. Pemerintah Kopenhagen menyebut bahwa jika AS memaksakan pengambilalihan Greenland, hal tersebut bisa menjadi akhir dari soliditas NATO.

    Namun, Trump tampak tak bergeming. Bahkan Gedung Putih disebut sedang mengkaji “berbagai opsi”, termasuk opsi ekstrem berupa penggunaan kekuatan militer AS, untuk menjadikan Greenland bagian dari Amerika.

    Situasi ini makin menghangat setelah sebelumnya AS melakukan operasi militer di Venezuela. Langkah-langkah agresif ini membuat Eropa kian waspada terhadap arah kebijakan luar negeri Washington.

    Apa Istimewanya Greenland?

    Lantas, apa sebenarnya yang membuat Greenland begitu menggoda bagi Trump?

    Secara geografis, Greenland berada di posisi super strategis—tepat di antara Amerika Serikat dan Rusia. Wilayah ini juga berada dekat jalur pelayaran Arktik yang semakin aktif seiring mencairnya es akibat perubahan iklim.

    Pencairan es Arktik membuka rute pelayaran baru yang bisa memangkas waktu tempuh Asia–Eropa, jauh lebih cepat dibanding Terusan Suez. Tak hanya itu, Greenland juga berada di Celah GIUK (Greenland–Islandia–Inggris), titik vital yang menghubungkan Samudra Arktik dan Atlantik—jalur penting bagi kapal perang dan kapal selam.

    Menurut Aktualpost.com, siapa pun yang menguasai Greenland akan punya keunggulan besar dalam peta keamanan global, khususnya di wilayah Arktik.

    Gudang Mineral dan Harta Karun Masa Depan

    Selain posisi strategis, Greenland juga menyimpan kekayaan alam luar biasa. Dari cadangan minyak dan gas, hingga deposit mineral penting dan unsur tanah jarang yang sangat dibutuhkan industri modern.

    Unsur tanah jarang menjadi bahan vital untuk teknologi masa depan seperti kendaraan listrik, turbin angin, penyimpanan energi, hingga sistem pertahanan militer. China selama ini nyaris memonopoli pasokan global, bahkan pernah menggunakannya sebagai alat tekanan geopolitik terhadap AS.

    “Trump itu pebisnis properti,” ujar Clayton Allen dari Eurasia Group.
    “Greenland punya nilai ekonomi dan pertahanan strategis yang luar biasa untuk 30 sampai 50 tahun ke depan,” tambahnya.

    Pangkalan Militer AS Sudah Ada di Greenland

    Menariknya, AS sebenarnya sudah lama bercokol di Greenland. Pangkalan Luar Angkasa Pituffik (dulu Pangkalan Udara Thule) berada di barat laut pulau tersebut dan menjadi titik vital sistem peringatan dini AS.

    Saat ini sekitar 150 personel militer AS ditempatkan di sana, jauh berkurang dibanding era Perang Dingin yang mencapai 6.000 personel.

    Menurut analis CSIS, rute terpendek rudal balistik Rusia menuju AS melewati Greenland dan Kutub Utara, menjadikan pulau ini krusial untuk pertahanan Amerika.

    Selain itu, Greenland juga berada di jalur potensial Northwest Passage dan Transpolar Sea Route, dua jalur laut Arktik yang semakin terbuka akibat perubahan iklim.

    Golden Dome dan Ambisi Pertahanan Trump

    Para analis menilai, Greenland sangat ideal untuk mendukung ambisi Trump membangun sistem pertahanan rudal raksasa bernama Golden Dome. Program bernilai miliaran dolar ini digadang-gadang menjadi versi Amerika dari Iron Dome milik Israel.

    “AS butuh akses Arktik yang lebih dekat dengan Rusia,” kata Clayton Allen.
    “Greenland memberikan lokasi ideal untuk sistem pencegat rudal generasi baru,” ujarnya.

    Singkatnya, jika Golden Dome ingin benar-benar efektif, Greenland dianggap sebagai salah satu kunci utama.

    Keamanan Nasional atau Kepentingan Ekonomi?

    Meski Trump menyebut keamanan nasional sebagai alasan utama, sejumlah pengamat mempertanyakan urgensi AS harus menguasai penuh Greenland.

    Analis Chatham House, Marion Messmer, menilai AS sebenarnya bisa meningkatkan kehadiran militernya tanpa harus mencaplok wilayah Denmark tersebut. Selama Perang Dingin saja, AS mampu menempatkan ribuan pasukan tanpa mengganggu kedaulatan Denmark.

    Yang juga tak kalah penting, mayoritas warga Greenland menolak menjadi bagian dari AS. Meski begitu, sebagian besar memang mendukung kemerdekaan penuh dari Denmark—bukan bergabung dengan negara lain.

    Seperti disorot Aktualpost.com, polemik Greenland bukan sekadar soal pulau es di ujung dunia. Ini adalah pertarungan pengaruh global antara kekuatan besar, di mana keamanan, ekonomi, dan politik internasional saling bertabrakan.

    Latest Posts

    spot_imgspot_img

    Don't Miss

    Stay in touch

    To be updated with all the latest news, offers and special announcements.